Rabu, 25 April 2012

URGENSI KADERISASI DI PMII






Menimbang Argumentasi Perkaderan PMII

(Di kutib dari buku Pendidikan Kritis Transformatif)

Individu-individu yang membentuk komunitas PMII dipersatukan oleh konstruks ideal seorang manusia. Secara idelogis, PMII merumuskannya sebagai ulul albab-citra diri seorang kader PMII. Ulul albabsecara umum didefinisikan sebagai seseorang yang selalu haus akan ilmu pengetahuan (olah pikir) dan ia pun tak pula mengayun dzikir. Dengan sangat jelas citra ulul albab disarikan dalam motto PMII dzikir, pikir dan amal sholeh.
            Dalam Al Qur’an secara lengkap kader ulul albab digambarkan sebagai berikut :
1.    Al-Baqarah (2): 179
“dan dalam hokum qishas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai Ulul Albab, supaya kamu bertaqwa.
2.    Al-Baqarah (2): 197
“ dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku wahai Ulul Albab.”
3.    Al-Baqarah (2); 296
“Allah menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang mendalam tentang Al-Quran dan Hadits) kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan barang siapa dianugerahi al-hikmah itu, maka ia benar-benar dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya Ulul Albab-lah yang dapat mengambil pelajaran.”
4.    Ali-Imran  (3):190
dialah yang menurunkan al-kitab kepada kamu. Diantra (isi)nya ada ayat-ayat muhkamah itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat, Adapun orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari Tugas Akhir’wilnya, padahal tidak ada orang yang tahu Tugas Akhir’wilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya mengatakan: “kamu beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat, semua itu dari sisi Tuhan kami.” Dan kami tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan Ulul Albab.”
5.    Ali Imran (3): 190
“sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi Ulul Albab.”
6.    Al-Maidah (5) 100
“katakanlah : tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka betaqwalah kepada Allah hai Ulul Albab, agar kamu mendapat keuntungan.”
7.    Al-ra’d (13): 19
Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar-benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah Ulul Albab saja yang dapat mengambil pelajaran.”
8.    Ibrahim (14); 52
“(Al-Quran) ini adalah penjelasan sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan denganya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan yang Maha Esa dan agar Ulul Albab mengambil pelajaran.”
9.    Shaad (38): 29
“ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran Ulul Albab.”
10.  Shaad (38): 29
“ dan kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rakhmat dari Kami dan pelajaran bagi Ulul Albab.”
            11. Al-Zumar (39): 9 
“(Apakah kamu hai orang-orang musrik yang lebih beruntung)ataukah orang-orang yang beribadat diwaktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhanya? Katakanlah: “adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” sesungguhnya Ulul Albab-lah yang dapat menerima pelajaran.”
12. Al-Zumar: (39): 17-18
“dan orang-orang yang menjauhi taghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira, sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah Ulul Albab.”
13.  Al-Zumar (39): 21
“ Apakah kamu tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air langit dari bumi, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan dengan air itu tanaman-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu ia menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi Ulul Albab.”
14.  Al-Mu’min (40): 53-54
“ dan sesungguhnya telah Kami berikan petunjuk kepada Musa, dan kami wariskan taurat kepada Bani Israil untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi Bani Ulul Albab.”
15.  Al-Talaq (65):10
“ Qallah menyediakan bagi mereka (orang-orang yang mendurhakai perinath Allah dan rasul-Nya) azab yang keras, maka bertaqwalah kepada Allah hai Ulul Albab, yaitu orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu.”
      Dari elaborasi teks di atas, komunitas ulul-albab dapat dicirikan sebagai berikut : (secara skematik dapat dirumuskan dalam bagan)
a.    Berkesadaran histories-primordial atas relasi Tuhan-manusia-alam.
b.    Berjiwa optimis-transedental atas kemampuan mengatasi masalah kehidupan/.
c.    Berpikir secara dialektis.
d.    Bersikap kritis.
e.    Bertindak Transformatif              
Sikap atau gerakan seperti ini bisa berinspirasi pada suatu pandangan keagamaan yang transformatif. Nah, Ulul Albab adalah orang yang mampu mentransformasikan keyakinan keagamaan atau ketaqwaan dalam pikiran dan tindakan yang membebaskan: , melawan thaghut.

Kegelisahan Kaderisasi Di PMII


Kategori
Calon anggota


 
Motivasi
 
 











a. Inventarisasi pemetaan dan pemilahan problem pengkaderan

Latar belakang Kader
Motivasi
Hasil
-          Santri NU
-          Gaul, orang bebas
-          Ikut-ikutan Teman
-          Ekonomi Menengah Ke bawah
-          Abangan
-          Masyarakat pedalaman (desa)
-        Masyarakat Tradisionalis
-          Aktualisasi diri,
-          Aktif di NU,
-          Tertarik dengan figur,
-          Ikut teman
-          Tertarik dg PMII
-          Belajar organisasi
-          Belajar Islam
-          Pinter
-          Demo
-          Banyak pengalaman
-          Anti Muhammadiyah/kelompok kanan
-          Kekuasaan/politik/batu loncatan
-          Mendapatkan sesuatu yang baru
-          Biasa saja
-          kurang agresif
-          Militan
-          Setengah-Setengah
-          Tidak aktif lagi di PMII
-           


b. Mengapa hal-hal tersebut di atas terjadi.



c. Anatomi setrategis kaderisasi Kader

Keterangan
Anatomi Setrategis Kaderisasi
Identitas kultural
  1. Problem perbedaan latar belakang calon anggota
  2. Citra PMII yang tidak agamis
  3. Tawaran belajar paket agama
  4. Pendekatan santun
  5. Merebut mesjid kampus
  6. Etos kerja
  7. Agama aplikatif
  8. Kebanggaan beragama
Agama
  1. Tawaran apa yang ingin dipelajari oleh anggota berbasis kampus umum (Shalat, mengaji, menjadi Khotib dsb)
  2. Kegiatan di daerah
  3. Cara pandang
    1. Kampus Agama  : Agama sebagai ilmu
    2. Kampus Umum   : Ritual, spritual
  4. Kepentingan         : Teosentris, Antroposentris
  5. Perlu fase-fase dalam pembelajaran agama, teologi – antriposentri
  6. Perlu mentoring untuk membina mereka
  7. Formulasi pengkaderan PMII yang beragam atau latar belakang yang anggota beragam
Aktualisasi diri
  1. Ruang Aktualisasi: Wadah, jaringan. Pelatihan dan gerakan
  2. Identifikasi minat dan bakat
Akses politik
-          PMII jadi batu loncatan atau itu adalah dampak = rawan  sehingga ada masalah baru  
-          Tidak ada modul bagi politisi
-          PMII memberi ruang untuk 
-          Isu strategis: ruang aktualisasi politik bagi kader
-          Contoh ruang  : partai di kampus-ruang alternatif, BEM - diaspora \
-          Politik eksternal  : PMII menyiapkan ruang untuk berkompetisi
-          Matri  : Manajemen konflik/manajemen Forum
-          Apa kepentingan PMII? Politik kampus dengan pembelajaran ketrampilan berpolitik.
-          Ansos Politik Pribadi           Media pembelajaran
 


Politik eksternal                          Politik Mahasiswa
(DPRD, Birokrasi)                        (BEM, Internal)
-          Materi  : merebut politik kampus
-          Wacana politik   : materi


                       



















SISTEM PERKADERAN
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA


Menimbang Argumentasi Perkaderan PMII

A. Citra Diri Ulul Albab

            Individu-individu yang membentuk komunitas PMII dipersatukan oleh konstruks ideal seorang manusia. Secara idelogis, PMII merumuskannya sebagai ulul albab-citra diri seorang kader PMII. Ulul albabsecara umum didefinisikan sebagai seseorang yang selalu haus akan ilmu pengetahuan (olah pikir) dan ia pun tak pula mengayun dzikir. Dengan sangat jelas citra ulul albab disarikan dalam motto PMII dzikir, pikir dan amal sholeh.
            Dalam Al Qur’an secara lengkap kader ulul albab digambarkan sebagai berikut :
11.  Al-Baqarah (2): 179
“dan dalam hokum qishas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai Ulul Albab, supaya kamu bertaqwa.
12.  Al-Baqarah (2): 197
“ dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku wahai Ulul Albab.”
13.  Al-Baqarah (2); 296
“Allah menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang mendalam tentang Al-Quran dan Hadits) kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan barang siapa dianugerahi al-hikmah itu, maka ia benar-benar dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya Ulul Albab-lah yang dapat mengambil pelajaran.”
14.  Ali-Imran  (3):190
dialah yang menurunkan al-kitab kepada kamu. Diantra (isi)nya ada ayat-ayat muhkamah itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat, Adapun orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari Tugas Akhir’wilnya, padahal tidak ada orang yang tahu Tugas Akhir’wilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya mengatakan: “kamu beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat, semua itu dari sisi Tuhan kami.” Dan kami tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan Ulul Albab.”
15.  Ali Imran (3): 190
“sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi Ulul Albab.”
16.  Al-Maidah (5) 100
“katakanlah : tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka betaqwalah kepada Allah hai Ulul Albab, agar kamu mendapat keuntungan.”
17.  Al-ra’d (13): 19
Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar-benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah Ulul Albab saja yang dapat mengambil pelajaran.”
18.  Ibrahim (14); 52
“(Al-Quran) ini adalah penjelasan sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan denganya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan yang Maha Esa dan agar Ulul Albab mengambil pelajaran.”
19.  Shaad (38): 29
“ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran Ulul Albab.”
20.  Shaad (38): 29
“ dan kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rakhmat dari Kami dan pelajaran bagi Ulul Albab.”
            11. Al-Zumar (39): 9 
“(Apakah kamu hai orang-orang musrik yang lebih beruntung)ataukah orang-orang yang beribadat diwaktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhanya? Katakanlah: “adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” sesungguhnya Ulul Albab-lah yang dapat menerima pelajaran.”
16. Al-Zumar: (39): 17-18
“dan orang-orang yang menjauhi taghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira, sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah Ulul Albab.”
17.  Al-Zumar (39): 21
“ Apakah kamu tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air langit dari bumi, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan dengan air itu tanaman-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu ia menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi Ulul Albab.”
18.  Al-Mu’min (40): 53-54
“ dan sesungguhnya telah Kami berikan petunjuk kepada Musa, dan kami wariskan taurat kepada Bani Israil untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi Bani Ulul Albab.”
19.  Al-Talaq (65):10
“ Qallah menyediakan bagi mereka (orang-orang yang mendurhakai perinath Allah dan rasul-Nya) azab yang keras, maka bertaqwalah kepada Allah hai Ulul Albab, yaitu orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu.”
      Dari elaborasi teks di atas, komunitas ulul-albab dapat dicirikan sebagai berikut : (secara skematik dapat dirumuskan dalam bagan)
f.      Berkesadaran histories-primordial atas relasi Tuhan-manusia-alam.
g.    Berjiwa optimis-transedental atas kemampuan mengatasi masalah kehidupan/.
h.    Berpikir secara dialektis.
i.      Bersikap kritis.
j.     Bertindak Transformatif              

Sikap atau gerakan seperti ini bisa berinspirasi pada suatu pandangan keagamaan yang transformatif. Nah, Ulul Albab adalah orang yang mampu mentransformasikan keyakinan keagamaan atau ketaqwaan dalam pikiran dan tindakan yang membebaskan: , melawan thaghut.
                       
B. Ulul Albab Adalah Kader Pelopor
Ulul Albab itulah yang dalam bahasa pergerakan disebut dengan kader pelopor (vanguardist). Kepeloporan dalam pengertian apa? Siapakah sebenarnya kader pelopor tersebut?
Asal usul istilah pelopor berasal dalam khasanah politik. Pertama kali diperkenalkan oleh Lenin di Rusia pada sekitar tahun 1980-an. Istilah itu digunakan untuk menyebut suatu partai pelopor (Vanguard party). Artinya, kepeloporan pada mulanya bermakna politik. Dalam penertian lenian ini kepeloporan dimaknai sebagai kepeloporan politik atau propaganda. Partai pelopor

                         

Berkesadaran historis-primordial atas relasi Tuhan-Manusia-alam
Yang utama dari ayat-ayat tentang ulul albab adalah bahwa mereka merupakan manusia yang memiliki kesadaran teologi yang dibangun dari pandangan dunia bahwa : (1) manusia adalah makhluk yang terikat dengan “perjanjian primordial” dengan tuhan dan karenanya manusia selalu hidup dalam bingkai ke-tuhanan; dan (2) bahwa untuk melaksanakan perjanjian tersebut keberagamaan manusia harus mampu mentransformasikan keyakinan dalam bentuk pemikiran atau filsafat hidup untuk mengelola dunia dengan segala persoalannya berdasarkan hukum-hukum sosial dan proses kesejarahan yang dapat dipertanggungjawabkan. Manusia bertanggung jawab sepenuhnya atas proses sejarah yang terjadi dan dia tidak bisa mengelak atau melarikan diri dari tanggung jawab itu, Karen apertanggung jawaban dimaksud adalah pertanggung jawaban kepada Tuhan karena ia sudah terikat dalam perjanjian primordial sebagai insane berketuhanan dan sebagai khalifah di bumi.       



Berjiwa optimis transedental atas kemampuan pribadi dalam mengatasi semua persoalan kehidupan   
Sikap optimis-transedental sejatinya hanya dan selalu lahir dari jiwa orang-orang yang bertaqwa. Dalam al-quran disebutkan bahwa “barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah  akan selalu memberikan kepadanya jalan keluar.” (al-Talaq (65): 2). Ketaqwaan atau juga kesadaran transendental sesungguhnya selalu berkorelasi positif dengan sikap sikap optimis. Artinya pesimisme adalah cermin dari orang-orang yang “bertaqwa”, atau bertaqwa tetapi ia tidak mampu memaknai ketaqwaanya dan tidak bisa mentransformasikan ketaqwaan itu dalam kecakapan pribadi dan kepercayaan diri yang dipupuk dengan prinsip-prinsip hidup utama. Jadi kader ulul albab adalah kader yang bertaqwa (al-Talaq(65) :10; al-Maidah (5):100; al-Baqarah (2) 179, 197). Ini berarti taqwa harus dimaknai sebagai keyakinan yang hidup diatas kesadrab transedental yang darinya akan lahir pribadi yang teguh memegang prinsip dan disertai komitmen yang konsisten untuk membangun suatu orde keadilan. Komitmen itu sendiri lahir dari suatu pandangan teologis yang mapan, bahwa tugas manusia di dunia adalah “mengelola dunia dann menjaga agama”         

Berpikir dialektis-struktural dalam melihat berbagai peristiwa sosial masyarakat
Dalam ayat-ayat tentang Ulul Albab diatas jelas dinyatakan pentingnya berpikir dialketis menyangkut fakta atau persoalan yang terkait dengan hokum-hukum alam yang permanen atau hukum-hukum sosial yang bisa direkayasa oleh manusia sendiri. (Misalnya dialektika sebab akibat, siang malam, tumbuh mati). Cara berpikir dialektis dengan sendirinya akan berporos pada usaha pengembangan struktur sosial yang lebih baik melalui kerangka aksi-refleksi-aksi, dst, konteks-teks-konteks, struktur-kultur-struktur, dst. Sebagai contoh, dalam melihat suatu fakta atau persoalan sosial dalam kerangka pikir dialektis structural, maka pertama akan melakukan aksi, melihat konteks, dan mengupayakan perubahan dengan pendekatan structural. Baru kemudian diperlukan refleksi, melihat kembali khazanah kulutural yang adadan juga mencari rujukan teks yang diperlukan. Setelah itu kembali lagi ke aksi, konteks, dan struktur.            



Bersikap kritis-prasporsional menghadapi berbagai perbedaan dan pluralitas pendekatan, sudut pandang, dan ideologiyang berekembang erkembang dimasyara 
Salah satu karakter utama dan menonjol kader ulul albab adalah bahwa ia selalu mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa dan fakta yang ada ditengah masyarakat. Mampu mengambil pelajaran artinya ia bisa membuat suatu refleksi dan identifikasi/pemetaan masalah dengan mengedepankan cara berpikir kritis-proporsional. Kritis juga berarti berkemampuan untuk menyampaikan pesan secara akurat sehingga ulul albab selalu menjadi corong yang mampu me



Berkembang di
masyarakat.
Bertindak transformatif cultural
Mampu menyampaikan dan menyelesaikan persoalan dengan bahsa kaumnya.
Salah satu karakter utama dan menonjol kader ulul albab adalah bahwa ia selalu mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa dan fakta yang ada ditengah masyarakat. Mampu mengambil pelajaran artinya ia biasa membuat suatu refleksi dan identitas/ pemetaan masalah dengan mengedepankan cara berpikir kritis-proporsional. Kritis juga berarti berkemampuan untuk menyampaikan pesan secara akurat sehingga ulul albab selalu menjadi corong yang mampu menyampaikan dan menyelesaikan persoalan dengan bahasa kaumnya.









C. Macam Dan Pengertian Perakaderan PMII

Kaderisasi PMII pada hakekatnya adalah totalitas upaya-upaya yang dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan untuk membina dan mengembangkan potensi dzikir, fikir dan amal soleh setiap insan pergerakan. Secara kategoris dapat dipilih dalam tiga bentuk yakni: Perkaderan Formal Basic, Perkaderan Formal Pengembangan dan Perkaderan Informal. Ketiga bentuk ini harus diikuti oleh segenap warga pergerakan, sehingga pada saatnya kelak akan terwujud kader yang berkualitas ulul albab.
Perkaderan formal basic meliputi tiga tahapan dengan masing-masing follow-up-nya. Ketiganya itu adalah Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba), Pelatihan Kader Dasar (PKD), dan Pelatihan Kader Lanjutan (PKL). Ketiga tahapan dengan follw-up yang menyertai itu merupakan satu kesatuan tak terpisahkan, karena kaderisasi PMMI pada hakekatnya merupakan proses terus menerus, baik di dalam maupun di luar forum kaderisasi (long-life-education).
Perkaderan Formal Pengembangan adalah berbagai pelatihan dan pendidikan yang ada di PMII. Perkaderan jjenis ini dibedakan dalam dua macam, yakni 1) yang wajib diikuti oleh segenap kader secara mutlak, dan 2) yang wajib di ikuti sebagai pilihan. Yang sifatnya wajib mutlak, disamping sebagai pembekalan mengenai hal-hal dasar yang harus dimiliki kader pergerakan, juga merupakan prasyarat bagi keikutsertaan kader bersangkutan dalam PKD atau  PKL.
Sedang perkaderan informal adalah keterlibatan kader pergerakan dalam berbagai aktifitas dan peran kemasyarakatan PMII. Baik dalam posisi sebagai penanggung jawab, menjadi bagian dari team work, atau bahkan sekedar partisipan. Perkaderan jenis ini sangat penting dan mutlak diikuti. Disamping sebagai tolak ukur komitmen dan militansi kader pergerakan, juga jauh lebih real disbanding pelatihan-pelatihan formal lain, karena langsung bersinggungan dengan realitas kehidupan.
Di atas semua pelatihan tersebut terdapat satu pelatihan lagi yakni pelatihan fasilitator. Pelatihan ini dimaksudkan untuk menciptakan kader-kader pergerakan yang secara terus menerus akan membina dan menangani berbagai forum perkaderan di PMII. Pelatihan lebih utama ditujukan bagi kader-kader potensial yang telah mengikuti semua bentuk perkaderan sebelumnya, dan yang telah teruji komitmennya terhadap PMII maupun aktifitas dan peran-peran sosial.

D. Penjenjangan Kaderisasi

Secara berurutan , penjenjangan pelatihan-pelatihan, baik pelatihan formal basic, pelatihan formal pengembangan maupun pelatihan informal dan pelatihan Fasilitator adalah sebagai berikut:
1.    Masa Penerimaan Anggota Baru, disingkat MAPABA.
Mapaba merupakan forum pengkaderan formal basic tingkat pertama. Disamping sebagai masa penerimaan anggota, forum ini juga sbagai wahana pengenalan PMII dan penanaman nilai (doktrinasi) dan idealisme sosial PMII.
Pada fase ini harus ditanamkan makna idealisme yang bermuatan relegius bagi mahasiswa dan urgensi perjuangan untuk idealisme itu melalui PMII baik pada struktur formalnya sebagai organisasi maupun pada aspek substansinya sebagai komunitas gerakan mahasisiwa yang berkatar kultur Islam. Karena itu terget yang harus dicapai pada fase ini adalah tertanamnya keyakinan pada setiap individu anggota bahwa PMII adalah organisasi kemahasiswaan yang paling tepat untuk mengembangkan diri dan memperjuangkan idealisme tersebut. Dari tahap ini output yang diharapkan adalah anggota yang mu’taqid.
Follow up Mapaba
Merupakan forum pengayaan wawasan ketrampilan anggota baru, sekaligus menjadi salah satu persyaratan untuk memasuki tahap kedua perkaderan formal basic (PKD). follow up Mapaba diarahkan pada studi-studi fakultatif, sebagai upaya pengembangan diri kader pergerakan. Studi fakultatif ini dilakukan melalui forum small group di mana kader diarahkan untuk memiliki scientific attitude dengan melakuakan pengkajian-pengkajian secara intensif dan terus menerus mengenai berbagai persoalan actual di bidang agama dan keberagaman, sosial budaya, politik, ekonomi, dan lain-lain.
Selain  follow up di atas, setelah Mapaba seorang kader pergerakan juga harus mengikuti dua pelatihan formal pengembangan, yang juga merupakan syarat mutlak bagi keikutsertaan kader bersangkutan dalam PKD. Kedua pelatihan itu adalah:
a.    Studi Epistemologi
Studi ini dimaksudkan untuk membekali kader pergerakan dengan perangkat paling dasar ilmu pengetahuan, yang juga meliputi ontology dan aksiologinya. Panduan dan kurikulum pelatihan ini dapat dilihat pada bagian ketiga buku ini.
b.      Pengembangan Ketrampilan Bahasa Asing (Inggris elementary).
    Target wajib minimal yang harus dicapai adalah penguasaan atas kosa kata dan kalimat-kalimat percakapan sehari-hari. Pelatihan ini dapat dilakukan secara individual dengan mengikuti kursus reguler atau yang diadakan oleh PMII sendiri.
2.    Pelatihan Kader Dasar, disingkat PKD
Pelatihan Kader Dasar merupakan perkaderan formal basic tingkat kedua. Pada fase ini persoalan doktrinasi nilai-nilai dan misi PMII, penanaman loyalitas dan militansi gerakan, diharapkan sudah tuntas. Target yang harus dicapai pada fase ini adalah terwujdnya kader-kader militan, mempunyai komitmen moral dan dasar-dasar kemampuan praksis untuk melakukan Amar ma’ruf nahi munkar.
Dalam PKD, kepada peserta mulai diperkenalkan berbagai berbagai model gerakan, prinsip prinsip dasar Analisa Sosial,dasar-dasar Advokasi dengan segala macam bentuknya  serta dasar-dasar managerial pengelolaan aktifitas dan gerakan. Output dari PKD adalah seorang kader pergerakan yang siap terjun di tengah masyarakat.
 
Follow up PKD
MerupakaN forum pengembangan wawasan dan keahlian kader sekaligus menjadi persyaratan untuk memasuki tahap ketiga Pelatihan Formal Basic (PKL). Follow up PKD diarahkan pada studi-studi pengembangan atau diskusi-diskusi intens, sebagai upaya peningkatan kualitas kader pergerkan. Studi intens ini dilakukan melalui forum small group, dimana kader diarahkan untuk memiliki sense of movement dengan melakukan pemgkajian-pengkajian secara intensif dan terus menerus mengenai berbagai persolan actual di masyarakat dan tokoh-tokoh gerakan rakyat dan atau gerakan sosial. Apabila dipandang perlu, forum small group dapat didampingi oleh seorang fasiliitator atau kader dengan kualifikasi telah lulus PKL, serta memiliki penguasaan yang relatif lebih luas atas persoalan yang menjadi konsens dari small group  yang bersangkutan.
Selain follow up di atas, setelah PKD seorang kader pergerakan juga harus mengikuti dua pelatihan formal pengembangan, yang juga merupakan syarat mutlak bagi keikutsertaan kader bersangkutan dalam PKL. Kedua pelatihan itu adalah:
a.     Sekolah Analisa Sosial
Disamping dimaksudkan untuk memperkokoh komitmen sosial warga pergerakan, pelatihan ini juga dimaksudkan untuk membekali kader pergerakan tentang perangkat analisa sosial yang mutlak diperlukan dalam berbagai aksi dan kemasyarakatan PMII. Panduan dan kurikulum pelatihan ini dapat dilihat pada bagian ketiga buku ini.
b.    Pengembangan Ketrampilan Bahasa Asing (Inggris intermediate)
Target wajib minimal yang harus dicapai adalah selain penguasaan dalam memahami naskah-naskah berbahasa Inggris (transltion) juga kemahiran (fluently) atas kosa kata dan kalimat-kalimat percakapan forum (English of meeting) Pelatihan ini dapat dilakukan secara individual dengan mengikuti kursus reguler atau yang diadakan oleh PMII sendiri.
Setelah PKD, seorang kader pergerakan harus mengikuti minimal satu pelatihan formal pengembangan yang bersifat pilihan, yang juga merupakan syarat mutlak bagi keikutsertaan kader bersangkutan dalam PKL. Pelatihan formal pengembangan kader atas pilihan-pilihan peran sosial transformatif atau gerakan/aksi minat, kecenderungan dan potensi masing-masing kader. Pelatihan-pelatihan tersebut adalah:
1.                            Pelatihan Advokasi Hukum (Pralegal)
Pelatihan ini dimaksudkan untuk melahirkan kader-kader yang memiliki kesadaran kritis terhadap terjadinya pelanggaran HAM dan civil violent serta kemampuan praksis dalam melakukan penegakan hokum pada segenap sector kehidupan.
2.                          Pelatihan Advokasi Petani dan Nelayan
Pelatihan ini dimaksudkan unutk melahirkan kader-kader yang memiliki kesadaran kritis terhadap terjadinya marginalisasi atas petani/nelayan serta kemampuan praksis dalam melakukan penguatan (empowerment) terhapadap mereka.
3.                          Pelatihan Advokasi Lingkungan
Pelatihan ini selain dimaksudkan untuk membekali kader pergerakan dengan diskursus lingkungan beserta konsepsi paradigmatic yang mendasarinya; dan terjadinya pelanggaran hokum lingkungan; juga kemampuan analitis dan praksis serta managerial dalam penegakan hokum lingkugan menuju terciptanya tatanan semua aspek kehidupan yang ramah lingkungan.
4.   Pelatihan advokasi Buruh
Pelatihan ini dimaksudkan untuk melahirkan kader-kader yang memiliki kesadaran kritis terhadap terjadinya marginalisasi atas buruh serta kemampuan praksis dalam melakukan penguatan (empowerment)terhadap mereka.
5.                          Pelatihan Advokasi Perempuan
Pelatihan ini dimaksudkan untuk melahirkan kader-kader yang memilii wawasan tentang kesetaraan gender dan kesadaran kritis terhadap terjadinya ketidak-adilan atas perempuan serta kemampuan praksis dalam melakukan penegakan atas hak-hak mereka.
6.                          Pelatihan Penelitian Akademik
Pelatihan ini selain dimaksudkan untuk membekali kader pergerakan dengan perangkat dasar ilmu pengetahuan beserta aspek ontologis dan aksiologisnya, juga untuk membekali kemampuan analitis dan metodologis dalam pembuktian akademik terhadap kasus-kasus empirik khususnya yang menyangkut sector-sektor kehidupan publik.
7.                          Pelatihan Risaet Aksi Partisipatoris (PAR)
Pelatihan ini selain dimaksudkan untuk membekali kader pergerakan dengan perangkat dasar ilmu pengetahuan beserta aspek ontologis dan aksiologisnya, juga untuk membekali kemampuan analitis dan metodologis dalam melakukan riset-riset aksi partisipatoris.

8.    Pelatihan Jurnalistik dan Manajemen Informasi
Pelatihan ini selain dimaksudkan untuk membekali kader pergerakan dengan dimensi-dimensi dasar jurnalistik dan informatika beserta aspek ontologis dan aksiologisnya, juga untuk membekali kemampuan analitis dan praksis atau managerial dalam pengelolaan informasi dan penciptaan opini.
9.         Pelatihan Kewirausahaan dan Penguatan Ekonomi Rakyat
Pelatihan ini selain dimaksudkan untuk melahirkan kader-kader pergerakan yang memiliki kesadaran kritis dan transformatif mengenai persoalan ekonomi dan politik, juga untuk membekali kemampuan praksis dalam menciptakan dan memanfaatkan peluang pengembangan usaha dan kewirausahaan, menuju terciptanya ekonomi rakyat yang kuat.
Panduan dan kurikulum untuk pelatihan-pelatihan tersebut dapat dilihat pada bagian ketiga buklu ini.
3.    Pelatihan Kader Lanjut, disingkat PKL
Tahapan ini merupakan fase spesifikasi untuk mengarahkan kader kepada kemampuan pegelolaan organisasi secara professional. Dengan pemahaman dan keyakinan terhadap nilai-nilai dan misi organisasi yang telah ditanamkan pada PKD, maka dalam PKL ini kader ditempa dan dikembangkan seluruh potensi dirinya untuk menjadi seorang pemimpin yang menyadari sepenuhnya amanah kekhalifahanya dengan didukung oleh kematangan leadership dan kemampuan managerial. Output dari pelatihan tahap ini adalah “Leader of Movement and Institusion”.
Follow up PKL
            Follow up PKL dilakukan melalui (dalam bentuk) pengelolaan aksi sosial transformatif. Hal ini dimaksudkan untuk peningkatan kualitas kepemimpinan kader pergerakan, baik dalam rangka pengembangan organisasi maupun dalam memecahkan persoalan-persoalan strategis yang berkaitan dengan dinamika internal organisasi dan dinamika eksternal yang terjadi di masyarakat.
            Selain follow up di atas, terdapat dua bentuk Pelatihan Paska PKL, yakni:
1.       Pelatihan Human dan Komunikasi Publik.
Pelatihan ini selain dimaksudkan untuk membekali kader pergerakan dengan dimensi-dimensi dasar human realition dan komunikasi publik, juga untuk membekali kemampuan praksis dalam pengembangan kepribadian, melakukan komunikasi (lobby, negoisasi dll) serta kemampuan menjalin kemitraan dengan berbagai pihak menuju terciptanya performance PMII yang simpataik, perfect  dan disegani. Pelatihan formal pengembangan jenis ini wajib diikuti oleh semua anggota pergerakan.
2.       Pelatihan Fasilitator Pelatihan
Pelatihan ini dimaksudkan untuk melahirkan kader-kader pergerakan yang memiliki kemampuan sebagai fasilitator untuk semua jenis pelatihan yang di di PMII.
Panduan dan kurikulum untuk kedua jenis pelatihan tersebut dapat dilihat pada bagian ketiga buku ini.       

E. REFLEKSI PKL DAN KADERISASI KAMPUS UMUM
Pelatihan Kader Lanjutan (PKL) telah terselenggara dengan frekuensi relatif lebih banyak dari sebelumnya. Hal ini terjadi karena inspirasi PKC dan cabang pelaksana PKL serta motivasi PB PMII untuk melakukan kerjasama dalam penyelenggaraan pelatihan tingkat lanjutan tersebut. Dengan pengalaman 9 kali pelaksanaan PKL di berbagai daerah memang belum terlalu bisa menggambarkan sebagai perwujudan profil Alul Albab kader secara maksimal dan merata. Namun, pemupukan ke arah penjenjangan perkaderan secara tepat dari Mapaba, PKD dan follow-up kemudian PKL mengarah pada keseriusan pembentukan profil kader seperti yang tercermin dalam Tujuan PMII pada Bab IV pasal 4 Anggaran Dasar.
            Selain frekuensi pelaksanaan, perlu diketahui pula bahwa selama periode ini PKL dilaksanakan dengan mengangkat isu-isu lokal di masyarakat, seperti advokasi pertambangan, pemberdayaan masyarakat industri, studi politik masyaralat dan lainnya. Proses pembelajaran dengan mengangkat beberapa isu tersebut dilakukan dengan metode partisipatoris. Karena peserta belajar disumsikan sebagai orang yang telah memiliki wawasan, pengalaman dan kemampuan.  Proses belajar dilakukan dengan model andragogi. Kelanjutan dari PKL di beberapa daerah tersebut dengan membentuk solidaritas bersama mengenai isu-isu kemasyarakatan yang rentan dengan intimidasi pemerintahan lokal. Hal ini menjadi kesepakatan Rencana Tindak Lanjut oleh masing-masing peserta PKL di beberapa daerah.
            PKL dilaksanakan dengan tujuan terciptanya kader profesional yang mengarah pada pembentukan pribadi kader pada dua hal; kepemimpinan dan kemampuan manajemen kader. Dua hal tersebut diharapkan menjadi bekal bagi kader PMII untuk melanjutkan masa pengabdiannya sebagai ketua umum Pengurus Cabang, Pengurus Koordinator Cabang, Pengurus Besar maupun sebagai bekal dalam rangka kompetisi di luar ruang PMII. Kompetisi antar kader di dalam organisasi maupun di luar organisasi ini bisa dilihat di mana kader PMII berada. Kalau kita menyangsikan “keberanian” berkompetisi kader PMII selama ini, boleh jadi karena kader peserta PKL yang dimiliki PMII masih relatif kurang. Untuk itu, proses pelaksanaan PKL ke depan harus lebih matang di tingkat metode, kedalaman materi, kamatangan fasilitator dan seleksi peserta yang ketat.
            Kader PMII lulusan PKD diharapkan menjadi kader mujtahid yaitu kader yang bersungguh-sungguh untuk melakukan perjuangan dalam mengamalkan nilai-nilai perjuangan pergerakan. Selain itu kader tersebut juga aktif melakukan pergesekan pemikiran, sehinga muncul pemikiran-pemikiran baru dari mereka. Sebagai mujtahid diasumsikan bahwa mereka belum memiliki kesadaran profesionalitas untuk memimpin dengan manajemen yang bagus. Mereka baru merasa mewakili segenap pengalaman dan bahan-bahan bacaan yang dipelajarinya. Kader mujtahid juga diharapka memiliki kemampuan untuk menjadi organizer bagi segenap potensi kritik untuk berada pada oposan sejati, tapi belum mampu mengorganiser kekuatan eksternal untuk membangun akses politik-ekonomi dengan unsure-unsur di luar komunitasnya.
            Dengan memperbandingkan antara kemampuan yang dibangun dalam pendidikan PKD dengan keterampilan pada PKL, maka diharapkan muncul kesadaran kader PMII untuk lebih banyak lagi mengadakan PKL. Betapa penting PKL dilaksanakan dalam rangka mengantarkan setiap individu kader pada cita-cita menjadi insan Ulul Albab sebagaimana tujuan organisasi.
            Interaksi sosial selalu menghasilkan perubahan, baik secara cepat maupun lambat, dari pihak-pihak yang saling berinteraksi tersebut. Kajian-kajian teoritis yang telah dibuat berkenaan dengan interaksi dan pertukaran antara organisasi dan lingkungannya tersebut menunjukkan bahwa persaingan antar kelompok-kelompok dalam kumpulan organisasi sejenis turut ditentukan oleh faktor-faktor lingkungannya. Oleh karena itu perubahan-perubahan yang terjadi pada lingkungan bersaing akan berpengaruh secara signifikan terhadap eksistensi dan kemampuan suatu organisasi.
Pada sisi yang lain, secara internal setiap organisasi mengalami pertumbuhan. Dalam telaah teori-teori organisasi sejumlah pakar mencatat adanya kesamaan pola-pola tertentu dalam kehidupan organisasi berdasarkan perbandingan antara usia organisasi dengan ukuran dan kompleksitasnya, yang membawa pada kesimpulan berupa teori tahapan/fase-fase pertumbuhan organisasi. Salah satu pakar yang terkenal dalam kajian pertumbuhan organisasi adalah Larry Greiner. Greiner menyimpulkan sebagai berikut:
1.    Setiap organisasi bertumbuh melalui suatu tahapan atau fase-fase pertumbuhan tertentu;
2.    Setiap fase pertumbuhan menciptakan krisisnya sendiri, karena itu setiap fase “cenderung” diakhiri dengan suatu krisis;
3.    Jika krisis dapat diatasi dengan tepat, maka berakhirnya krisis merupakan awal dimulainya fase/tahapan baru dalam pertumbuhan organisasi.
Umumnya suatu organisasi mengalami tahapan/fase-fase kaderisasi dan krisisnya sebagai berikut:
a.     Fase kreatifitas, berakhir dengan krisis kepemimpinan
b.    Fase pengarahan, berakhir dengan krisis otonomi
c.     Fase pendelegasian, berakhir dengan krisis pengendalian
d.    Fase koordinasi, berakhir dengan red tape crisis
e.    Fase kolaborasi, dalam teori Greiner tidak jelas krisis yang mengakhiri fase kolaborasi

Suatu krisis ditandai oleh beberapa gejala diantaranya adalah: terjadinya konflik yang berlarut-larut dan terus menajam; retaknya kohesivitas kelompok; menurunnya kinerja organisasi; serta tidak tercapainya target-target dan tujuan pendirian organisasi. Kelambanan dan kegagalan menangani gejala krisis akan mengarahkan organisasi pada puncak krisisnya. Jika krisis tidak mampu direspons dengan tepat maka niscaya organisasi akan mengalami kemunduran, atau kalaupun eksist namun action organisasi tidak mampu memberi makna dan pengaruh signifikan bagi pemenuhan kebutuhan internal maupun eksternal organisasi.
Greiner juga mencatat adanya kasus-kasus khusus dimana organisasi tidak bertumbuh melalui tahapan dan krisis-krisis tersebut secara berurutan, karena bisa saja suatu fase terlompati atau tidak diakhiri dengan krisis. Selain itu Greiner tidak memberikan kelanjutan teorinya tentang krisis apa atau apa yang terjadi sesudah fase kolaborasi. Namun sejumlah ahli berpendapat bahwa pasca fase kolaborasi organisasi bertumbuh dari awal kembali, tidak secara mekanistik melainkan secara organik.
Walaupun terdapat sejumlah catatan kritis terhadap teori Greiner, namun teori ini dianggap cukup capable dan relevan menjelaskan daur hidup organisasi; karena itulah teori ini sangat sering dikutip dan dipakai.
Melalui fase-fase di atas organisasi dari jenis apapun bertumbuh. Pada setiap fase dikembangkan strategi, struktur, sistem, proses dan perilaku (kultur) yang berbeda, sebagai respons terhadap ukuran (size) dan kompleksitas organisasi serta tantangan lingkungannya yang terus berubah. Namun perlu dicatat bahwa suatu struktur, sistem, strategi dan kultur yang berhasil pada suatu fase tertentu belum tentu tepat dipakai untuk fase lainnya.
Krisis dalam organisasi terjadi tatkala stabilitas organisasi terguncang, sejumlah fungsi organisasi tidak berjalan optimal atau bahkan men-disfungsi. Penyebabnya bisa datang dari dalam maupun dari luar organisasi, atau bersama-sama secara simultan. Akibat krisis adalah menurun/merosotnya kinerja (performance) dan organisasi tak mampu mencapai target-targetnya.
Agar organisasi tidak jatuh dalam krisis maka setiap saat organisasi harus merespons gejala krisis dengan tepat,  yaitu melalui pemetaan situasi dan faktor-faktor problematik yang signifikan mempengaruhi kinerja dan pencapaian target-target secara berkesinambungan, untuk kemudian melakukan penataan ulang organisasi yang disesuaikan dengan kompleksitas pertumbuhan dan perubahan lingkungannya.
Kebutuhan-kebutuhan baru akibat pertumbuhan organisasi dan perubahan-perubahan lingkungan bersaing organisasi tersebut perlu direspons secara tepat agar organisasi memiliki posisi persaingan yang baik serta mampu menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi oleh para anggota organisasi secara khusus dan masyarakat secara umum merupakan tujuan pembentukan organisasi PMII.











II. PELATIHAN KADER DASAR (PKD)


1.       Pengertian
Pelatihan Kader Dasar (PKD) merupakan perkaderan formal basic tingkat kedua. Pada fase ini persoalan doktrinasi nilai-nilai dan misi PMII, penanaman loyalitas dan militansi gerakan, diharapkan sudah tuntas.
2.       Model Pendekatan
Karena persoalan doktrinasi nilai, ideologi visi-misi PMII yang sudah tuntas, sehingga pendekatan doktrinasi sudah tidak diperlukan dalam pelatihan formal basic kedua ini. Tetapi pendekatan yang harus di pakai adalah dengan pendekatan partisipatoris aktif, sehingga peranan semua unsur yang terlibat dalam pelatihan sangat mempengaruhi terjadinya dinamika dan dialektika selama proses pelatihan berjalan.
3.       Tujuan Dan Target
Secara garis besar PKD ini bertujuan untuk membekali kader dengan kemampuan – kemampuan praksis dengan pijakan teori dan pengetahuan Karena itu tujuan dan terget yang harus dicapai pada fase ini adalah
a.       Tertanamnya keyakinan dan komitmen terhadap dunia gerakan
b.       Penguasaan terhadap prinsip-prinsip analisa sosial
c.        Penguasaan terhadap teori-teori sosial sebagai pijakan pengetahuan untuk membaca realitas masyarakat dan negara dalam konteks lokal-nasional dan global
d.       Penguasaan materi advokasi dan strategi-strateginya
  1. Kurikulum
Sesi I                : BINA SUASANA
Tujuan                              Peserta, panitia dan fasilitator mengetahui semua komponen yang terlibat dalam pelatihan sehingga dapat mengenali dirinya sendiri dan teman sepelatihannya, sehingga dapat terbina suasana pelatihan yang penuh dengan keakraban dan kebersamaan di antara semua komponen tersebut. Disepakatinya beberapa aturan main selama pelatihan berlangsung, baik kewajiban, hak dan kekhawatiran-kekhawatiran yang akan terjadi selama pelatihan berlangsung.

Pokok Bahasan               1. Perkenalan
2. Penyusunan Harapan dan kekhawatiran dari    Peserta, panitia dan fasilitator
                                                            3. Citra diri peserta
4. Kontrak belajar   (Aturan Main dan tata tertib PKD)
           
Bahan-Bahan                             - Kertas kecil secukupnya
- Spidol/kapur tulis
- Papan tulis/kertas plano

Metode                          - Permainan/role palying
 - Brain storming

Waktu                                       120 Menit

            Proses Kegiatan
1.       Panitia/Fasilitator membuka sessi dengan memperkenalkan identitas dirinya, dan meminta tiap-tiap peserta untuk memperkenalkan identitas dan pengalaman dirinya yang dibantu dengan role playing.        
2.  Fasilitator meminta tiap-tiap peserta untuk mengungkapkan harapan-harapannya selama mengikuti seluruh rangkaian atau proses pelatihan ini serta kekhawatiran-kekhawatiran yang ditakutkan akan terjadi.           
3.  Fasilitator meminta tiap-tiap peserta untuk menyebutkan hal-hal yang diperlukan/ dilakukan demi tertib, lancar dan suksesnya proses pelatihan ini;
4.  Fasilitator mendorong terjadinya kesepakatan antar peserta tentang perlunya tata-tertib pelatihan;
5.  Seluruh peserta menyepakati tentang 'tata-tertib pelatihan'.
           
            Sesi II               : ASWAJA SEBAGAI MANHAJ AL FIKR
                                                   Tujuan           - Peserta mampu memahami dan merekonstruksi, sejarah perkembangan pemikiran-pemikiran Islam sejak zaman Nabi hingga sekarang.
                                                             - Peserta mampu memahami proses keunculan pemikiran-pemikiran Islam sebagai sebuah pengetahuan (teori) dan konstruksi global
                                                            - Peserta mampu memahami aswaja sebagai metodologi berfikir dalam upaya memahami ajaran-ajaran Islam dan landasan gerakan sebagai upaya untuk menemukan posisi gerakan PMII dalam konteks lokal-nasional dan global.

Pokok Bahasan                           1. Pengaruh sosio-historis-kultural bangsa Arab dan bangsa-bangsa lain terhadap perkembangan pemikiran Islam
2. Latar belakang ekonomi-sosial-politik pemerintahan Islam zaman awal terhadap proses pelembagaan madzab dalam Islam
            3. Aswaja sebagai manhaj al fikr

Bahan-Bahan                             - Spidol/kapur tulis
- Papan tulis/kertas plano
                                                - Makalah / materi ceramah

Metode                          - Ceramah/presentasi
 - Dialog (tanya jawab)
                                                - Diskusi Kelompok

Waktu                                       240 Menit

            Proses Kegiatan
1.     Moderator/fasilitator membuka sesi dengan penjelasan umum tentang materi sessi ini;
2.     Narasumber/fasilitator menguraikan pokok-pokok bahasan tentang materi sessi ini;
3.     Dialog dan/atau klarifikasi;
4.     Disksi kelompok, dan diskusi pleno membahas hasil diskusi kelompok.

Sesi III  : ISLAM DAN TEOLOGI PEMBEBASAN
            Tujuan                          - Peserta memahami latar belakang kemunculan teologi pembebasan dalam perspektif amar ma`ruf nahi mungkar
                                                - Peserta memiliki sense-gerakan terhadap kenyataan empiris dalam konteks lokal-nasional maupun global
                                                - Peserta menginternalisasi dan mengimplemantasikan prinsip dan nilai-nilai egalitarianisme dan universalitas Islam

Pokok Bahasan                           1. Latar belakang kemunculan teologi pembebasan dan perspektifnya terhadap perubahan
2. Hakekat amar ma`ruf nahi mungkar dalam konteks perubahan sosial
3. Nilai-nilai egalitarianisme sebagai nilai tertinggi dalam perubahan sosial

Bahan-Bahan                             - Spidol/kapur tulis
- Papan tulis/kertas plano
                                                - Makalah / materi ceramah

Metode                          - Ceramah/presentasi
 - Dialog (tanya jawab)
                                                - Diskusi Kelompok
-          Study Kasus

Waktu                                       120 Menit
           
Sesi IV  : PARADIGMA PMII
            Tujuan                          Peserta memahami paradigma gerakan PMII dan menjadikanya sebagai metodologi berpikir dan gerakan  serta dalam mengimplementasikannya dalam perilaku , sikap dan kehidupan pribadi, berorganisasi dan berdialektika dalam pergerakan.

Pokok Bahasan                           1. Membaca Realitas gerakan dan ke-Indonesiaan sebagai landasan epistimologi paradigma gerakan
2. Filosofi paradigma PMII
3. Rumusan paradigma sebagai setrategi gerakan
4. Internalisasi dan implementasi paradigma gerakan dalam kehidupan pribadi dan berorganisasi

Bahan-Bahan                             - Spidol/kapur tulis
- Papan tulis/kertas plano
                                                - Makalah / materi ceramah

Metode                          - Ceramah/presentasi
 - Dialog (tanya jawab)
                                                - Diskusi Kelompok
- Study Kasus

Waktu                                       240 Menit
           
            Proses Kegiatan
1.     Moderator/fasilitator membuka sesi dengan penjelasan umum tentang materi sessi ini;
2.     Narasumber/fasilitator menguraikan pokok-pokok bahasan tentang materi sessi ini;
3.     Dialog dan/atau klarifikasi;
4.     Disksi kelompok, dan diskusi pleno membahas hasil diskusi kelompok.

            Sesi V                           : ANALISA SOSIAL
            Tujuan                          - Peserta memahami realitas masyarakat sebagai landasan analisa dalam perspektif lokal-nasional dan global
                                                - Peserta memahami prinsip-prinsip dan model analisa untuk menentukan strategi dan posisi PMII sebagai organisasi pergerakan

Pokok Bahasan                           1. Realitas masyarakat
2. Prinsip dan model-model nalisa sosial
3. Fungsi analisa sosial untuk menentukan posisi dan strategi gerakan
4. Perangkat-perangkat analisa sosial
Bahan-Bahan                             - Spidol/kapur tulis
- Papan tulis/kertas plano
                                                - Makalah / materi ceramah

Metode                          - Ceramah/presentasi
 - Dialog (tanya jawab)
                                                - Diskusi Kelompok
- Role playing

Waktu                                       240 Menit

Proses Kegiatan
1.     Moderator/fasilitator membuka sesi dengan penjelasan umum tentang materi sessi ini;
2.     Narasumber/fasilitator menguraikan pokok-pokok bahasan tentang materi sessi ini;
3.     Dialog dan/atau klarifikasi;
4.     Disksi kelompok, dan diskusi pleno membahas hasil diskusi kelompok.

Sesi VI  : STUDY ADVOKASI
            Tujuan                          - Peserta memahami teori dan tehnik-tehnik advokasi
                                                - Peserta memahami bentuk dan macam-macam advokasi
                                                - Peserta memahami setrategi advokasi

Pokok Bahasan                           1. Filosofi dan urgensi advokasi
2. Macam dan bentuk Advokasi
3. Model-model advokasi
4. Advokasi sebagai setrategi

Bahan-Bahan                             - Spidol/kapur tulis
- Papan tulis/kertas plano
                                                - Makalah / materi ceramah

Metode                          - Ceramah/presentasi
 - Dialog (tanya jawab)
                                                - Diskusi Kelompok
-          Study kasus

Waktu                                       150 Menit

Proses Kegiatan
1.     Moderator/fasilitator membuka sesi dengan penjelasan umum tentang materi sessi ini;
2.     Narasumber/fasilitator menguraikan pokok-pokok bahasan tentang materi sessi ini;
3.     Dialog dan/atau klarifikasi;

Sesi VII : ANALISA WACANA
            Tujuan                          - Peserta memahami alur dan nalar dari setiap kemunculan wacana.
                                                - Peserta mampu memahami tekhnik membaca wacana
                                                - Peserta mampu memahami ada apa di balik wacana-wacana tersebut

Pokok Bahasan                           1. Teknik membaca wacana
2. Wacana sebagai bagian dari sub sistem pengetahuan dunia
3. Wacana sebagai ideologi

Bahan-Bahan                             - Spidol/kapur tulis
- Papan tulis/kertas plano
                                                - Makalah / materi ceramah

Metode                          - Ceramah/presentasi
 - Dialog (tanya jawab)
                                                - Diskusi Kelompok
-          Study Kasus

Waktu                                       150 Menit

            Proses Kegiatan
1.     Moderator/fasilitator membuka sesi dengan penjelasan umum tentang materi sessi ini;
2.     Narasumber/fasilitator menguraikan pokok-pokok bahasan tentang materi sessi ini;
3.     Dialog dan/atau klarifikasi;
           
Sesi VIII            : POLA DAN STRATEGI PENGEMBANGAN PMII
Tujuan                            - Peserta mampu memahami makna        strategi sebagai cara yang harus dilakukan untuk memobilisasi kekuatan (forces mobilization) secara efektif. Strategi mengarah pada  upaya untuk memenangkan suatu pertarungan (kontestasi).
                                       - Peserta memahami nilai-nilai  perjuangan PMII untuk membangun masyarakat yang memiliki kekuatan dan jejaring untuk merancang perubahan ke arah yang lebih baik sebagai langkah untuk memberikan penguatan kepada kader.
                                       - Peserta memahami pola dan setrategi ke depan PMII sebagai upaya untuk menentukan posisi gerakan ke depan

Pokok Bahasan                           1. Filosofi dan urgensi dari pola dan setrategi pengembangan PMII
2. Identifikasi peluang dan potensi PMII
3. Membaca alternatif peran gerakan PMII untuk menentukan posisinya masa kini dan masa depan

Bahan-Bahan                             - Spidol/kapur tulis
- Papan tulis/kertas plano
                                                - Makalah / materi ceramah

Metode                          - Ceramah/presentasi
 - Dialog (tanya jawab)
                                                - Diskusi Kelompok
-          Study kasus

Waktu                                       150 Menit

            Proses Kegiatan
1.     Moderator/fasilitator membuka sesi dengan penjelasan umum tentang materi sessi ini;
2.     Narasumber/fasilitator menguraikan pokok-pokok bahasan tentang materi sessi ini;
3.     Dialog dan/atau klarifikasi;

           
Sesi IX  : REKAYASA SOSIAL
Tujuan                            - Peserta memiliki pemahaman holistik dalam proses transformasi sosial    
                                       - Peserta memahami prinsip-prinsip dasar dengan berbagai alternatif rekayasa sosial
                                        
Pokok Bahasan                           1. Proses transformasi sosial
2. Prinsip dasar rekayasa sosial
3. Pendekatan-pendakatan dalam rekayasa sosial

Bahan-Bahan                             - Spidol/kapur tulis
- Papan tulis/kertas plano
                                                - Makalah / materi ceramah

Metode                          - Ceramah/presentasi
 - Dialog (tanya jawab)
                                                - Diskusi Kelompok
-          Study kasus

Waktu                                       90 Menit

            Proses Kegiatan
1.     Moderator/fasilitator membuka sesi dengan penjelasan umum tentang materi sessi ini;
2.     Narasumber/fasilitator menguraikan pokok-pokok bahasan tentang materi sessi ini;
3.     Dialog dan/atau klarifikasi;

Sesi X   : PENGELOLAAN OPINI DAN GERAKAN MASSA
   Tujuan                         - Peserta memiliki kemampuan untuk membaca dan membuat isue-isue setrategis  
                                       - Peserta memahami pentingnya komunikasi massa
                                       - Peserta memahami prinsip-prinsip serta perangkat gerakan massa
                                                   - Peserta memiliki kemampuan untuk merangcang gerakan massa, mengelola opini, melakukan gerakan massa dengan pendekatan setrategis
                                        

Pokok Bahasan                           1. Manajemen (pengelolaan informasi dan opini) isue
2. Isue sebagai setrategi kampanye untuk membangun opini
3. Prinsip-prinsip gerakan massa
4. Analisa situasi dan pembacaan medan
5. Setrategi dan taktik menciptakan, mengelola dan memimpin gerakan massa

Bahan-Bahan                             - Spidol/kapur tulis
- Papan tulis/kertas plano
                                                - Makalah / materi ceramah

Metode                          - Ceramah/presentasi
 - Dialog (tanya jawab)
                                                - Diskusi Kelompok
-          Study kasus
- Role playing

Waktu                                       240 Menit

            Proses Kegiatan
1.     Moderator/fasilitator membuka sesi dengan penjelasan umum tentang materi sessi ini;
2.     Narasumber/fasilitator menguraikan pokok-pokok bahasan tentang materi sessi ini;
3.     Dialog dan/atau klarifikasi;
4.     Disksi kelompok, dan diskusi pleno membahas hasil diskusi kelompok.

Sesi XI  : PENGORGANISASIAN KAMPUS
Tujuan                            - Peserta memahami proses, prinsip-prinsip dan unsur utama dalam pengorganisasian di kampus           
                                       - Peserta mampu memahami dan memetakan kelompok-kelompok setrategis di kampus
            - Peserta memiliki kemampuan analisa dengan cepat dan tepat dalam merespon isue-isue dan dinamika di kampus
            - Peserta memahami potensi dan peluang-peluang di kampus sebagi upaya untuk menguasai kampus
                                        
Pokok Bahasan                           1. Potensi dan peluang kampus dalam perspektif antropologi
2. Prinsip pengorganisasian
3. Kelompok-kelompok setrategis di kampus
                                                            4. Strategi penguasaan kampus

Bahan-Bahan                             - Spidol/kapur tulis
- Papan tulis/kertas plano
                                                - Makalah / materi ceramah

Metode                          - Ceramah/presentasi
 - Dialog (tanya jawab)
                                                - Diskusi Kelompok
-          Study kasus

Waktu                                       120 Menit

            Proses Kegiatan
1.     Moderator/fasilitator membuka sesi dengan penjelasan umum tentang materi sessi ini;
2.     Narasumber/fasilitator menguraikan pokok-pokok bahasan tentang materi sessi ini;
3.     Dialog dan/atau klarifikasi;
4.     Disksi kelompok, dan diskusi pleno membahas hasil diskusi kelompok.


Sesi XII : GENERAL REVIEW
            Tujuan                          Peserta memahami keterpaduan antara keseluruhan materi yang telah disampaikan, dapat mereview materi-materi tersebut sehingga mampu menemukan pijakan setrategis dalam gerakan.

Pokok Bahasan                           1. Substansi dari materi-materi yang telah disampaikan
2. Unsur-unsur kesinambungan antar materi yang telah disampaikan
3. Urgensi PMII sebagai oranisasi pergerakan dalam merespon segala dinamika dalam konteks lokal-nasional dan global.

Bahan-Bahan                             - Spidol/kapur tulis
- Papan tulis/kertas plano
                                                - Makalah / materi ceramah

Metode                          - Review keseluruhan materi
 - Dialog (tanya jawab)
                                                - Diskusi Kelompok
-          Brain strorming

Waktu                                       90 Menit

            Proses Kegiatan
1.       Panitia/Fasilitator membuka sessi dengan meminta tiap-tiap peserta untuk melakukan review materi-materi dan mengevaluasi jalannya/proses pelatihan;
2.       Fasilitator meminta tiap-tiap peserta untuk menyatakan apakah harapan-harapannya terhadap pelatihan yang dikemukakan pada saat bina suasana tercapai;

           
Sesi X               : RENCANA TINDAK LANJUT
            Tujuan                          Peserta memahami PMII sebagai organisasi gerakan sehingga terbangun sense of movement yang tentunya dengan dibekali dengan pengetahuan dan kemampuan praksis untuk bergerak.

Pokok Bahasan                           1. Identifikasi potensi, bakat-minat dan kecenderungan kader
2. Bentuk-bentuk follow up
3. Kesepakatan menagerial pengelolaan follow up

Bahan-Bahan                             - Spidol/kapur tulis
- Papan tulis/kertas plano

Metode                          - Dialog (tanya jawab)
                                                - Brain strorming

Waktu                                       90 Menit
           
            Proses Kegiatan
1.       Fasilitator meminta tiap-tiap peserta untuk menyebutkan hal-hal yang diperlukan/dilakukan untuk menindak-lanjuti pelatihan ini;
2.  Fasilitator mendorong agar terjadi kesepakatan antar peserta tentang perlunya membuat agenda atau kegiatan bersama sebagai tindak lanjut dari pelatihan ini;
3.  Seluruh peserta menyepakati agenda bersama tindak lanjut pelatihan.

           
Sesi XI : EVALUASI DAN PENUTUPAN
a.       Evaluasi
Evaluasi perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari pelatihan, untuk mengukur apakah target, harapan dan kekhawatiran terpenuhi dan terjadi selama proses PKD berlangsung. Hal ini akan berguna sebagai  masukan dan pertimbangan dalam pelaksanaan pelatihan-pelatihan selanjutnya. Hal- hal yang harus di evaluasi adalah mencakup keseluruhan komponen yang terlibat dalam PKD, baik metodologi pelatihan, peserta, panitia, fasilitator, pembicara, tempat, serta fasilitas dan unsur-unsur lain yang terlibat dalam pelatihan.
b.       Penutupan
Penutupan harus dilaksanakan untuk membangun kedisiplinan bersama di PMII karena penutupan adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam metodologi pelatihan.

  1. Follow Up
Follow Up harus dilakukan sebagai satu pilihan untuk meneguhkan komitmen PMII sebagai organisasi gerakan serta untuk membangun kesinambungan antar kader dan tetap berjalan sebagaimana kesepakatan dalam pembahasan follow up di PKD.  Selain itu juga sebagai media untuk melakukan pendalaman materi dan mempraktekkan materi-materi yang didapatkan selama pelatihan. Dalam Follow Up berbentuk kelompok-kelompok kecil (small group) yang beranggotakan antara 5-10 orang agar memudahkan fasilitator untuk melakukan pendampingan secara intensif. Pengelolaan dan managerial small group ini harus diserahkan langsung  kepada peserta sebagai media untuk uji coba terhadap keseriusan dan tanggung jawab baik dalam konteks pribadi maupun organisasi.
Beberapa kegiatan yang bisa dilakukan sebagai follow up PKD yang memungkinkan juga sebagai bentuk uji coba terhadap small group:
1.       Kegiatan-kegiatan insidental, seperti :
a.       Bakti sosial
b.       Penyikapan terhadap isu-isu di kampus
c.        Dll
2.       Berbagai pelatihan-pelatihan
Pelatihan-pelatihan ini akan dibahas dalam pembahasan selanjutnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

Permisi,, KLIK!!!